TANAMAN KUMIS KUCING Menelisik Kandungan Metabolit Sekunder Melalui Elisitasi Kultur Suspensi Sel Tanaman Kumis Kucing
Rp. 76.000
Penulis: Yesi Gusnelti
Panjang: 23
Lebar: 15
Halaman: 61
ISBN: 00
Sinopsis:
Tanaman kumis kucing (Orthosiphon stamineus. Benth) merupakan salah satu tanaman obat yang potensial dikembangkan dan telah banyak digunakan untuk mengobati berbagai macam penyakit. Kumis kucing kaya akan senyawa metabolit sekunder aktif seperti sinensetin yang merupakan senyawa marker dari tanaman ini. Kandungan senyawa metabolit sekunder pada tanaman biasanya rendah. Alternatif produksi senyawa bioaktif yang diinginkan dari tanaman melalui pendekatan bioteknologi khususnya kultur jaringan tanaman memiliki potensi besar. Tanaman kumis kucing (Orthosiphon stamineus Benth.) merupakan salah satu tanaman obat yang potensial dikembangkan yang telah banyak digunakan untuk mengobati berbagai macam penyakit seperti nefritis, nefrolitiasis, hidronefrosis, hipertensi, arterosklerosis, gout, rematik, diabetes, oliguria, dan inflamasi, karena di dalamnya terkandung senyawa metabolit sekunder aktif seperti flavon, polifenol, protein aktif, glikosida, minyak atsiri, kalium, dan terpenoid. Senyawa fenolik yang telah diisolasi dari tanaman kumis kucing seperti flavon lipofilik, glikosida flavonol, turunan asam kafeat (asam rosmarinat dan asam 2,3-dikafeoiltartarad), asam oleanolat, asam ursolat, β-sitosterol, dan sinensetin. Sinensetin merupakan senyawa fitokimia paling penting dan menjadi senyawa marker dari tanaman kumis kucing. Daun tanaman kumis kucing mengandung sinensetin 0,10%.








